Social Icons

Pages

Jun 12, 2013

Aku Ingin Jogja Seperti Ini

Jogjakarta, kota yang menjadi kota tempat tinggalku. Meskipun bukan warga kota tapi semenjak kecil aku sudah akrab dan mengenal kota ini. Jogja yang dahulu aku kenal adalah tempat yang ramah, nyaman dan menyenangkan. Keramahan tulus ataupun sekedar basa basi yang pada akhirnya menimbulkan rasa yang membuat kita selalu ingin kembali ke  Jogja ketika pergi jauh entah kemana. Jogja terasa asri dan sejuk, hiruk pikuk kehidupan yang ada masih dapat ditoleransi tanpa mengganggu kenyamanan yang ada. Sekarang jogja sudah banyak berubah, seiring pekembangan zaman sudah wajar terjadi perubahan akan tetapi perubahan yang ku rasakan saat ini  serasa Jogja sudah mulai kehilangan jati dirinya. Slogan Jogja berhati nyaman sepertinya sudah mulai luntur termakan waktu dan kerasnya kehidupan manusia masa kini.

Jogja menjadi gerah,  panas dan yang cukup mencengangkan serta sedikit menyebalkan adalah Jogja sekarang macet. Pertambahan jumlah kendaraan semakin menggila, berbagai macam kendaraan berjejalan di jalanan yang sepertinya tak bertambah lebar.  Area  pejalan kaki juga seringkali berubah untuk area dagang, sehingga pejalan kaki menjadi pihak yang kalah dan mlipir di badan jalan. Pembangunan gedung-gedung tinggi kian membabi buta dan mengganggu pemandangan kota karena bangunan megah itu kadang berdiri di antara bangunan lain yang semacam sudah tertata dan memiliki keindahan tersendiri dengan susunan yang ada sebelumnya. Coba saja kita lihat, sekarang banyak dibangun gedung besar di mana-mana di lokasi  yang menurut mereka aspek ekonominya menjual dan pada akhirnya keberadaan bangunan itu menurut saya sedikit merusak harmoni yang ada dan ketika itu menarik masa akan menimbulkan titik kemacetan baru dan itu menyebalkan. Aku tidak suka Jogja yang begitu, ini bukan masalah menentang perkembangan zaman, akan tetapi lebih pada menciptakan harmoni yang nyata ditengah hiruk pikuk kehidupan yang ada tanpa menggerus kenyamanan yang lama tercipta. Aku ingin Jogja yang kembali sejuk dan nyaman seperti dahulu. Perlu di bangun area publik yang nyaman, rindang, asri sehingga membuat kita betah berlama-lama di jogja. Trotoar untuk pejalan kaki sebaiknya sungguh-sungguh difungsikan bagi pejalan kaki. Bukannya mau mematikan mata pencaharian orang lain, tetapi sebaiknya mereka yang berjualan juga sadar fungsi dasar dari dibuatnya trotoar itu apa, jangan sampai fungsi mendasarnya jadi terlupakan hanya karena keegoisan untuk mencari segepok rupiah. Pembangunan gedung-gedung besar yang tidak perlu seharusnya dipersulit izinnya oleh dinas kota, kalau perlu dibatasi jika itu memang tidak perlu. Untuk masalah macet aku tidak begitu paham bagaimana mengatasinya, tapi jika bisa tolong beri solusi atas kemacetan itu jika perlu hapuskan kata macet dari kamus di Jogja karena macet itu sungguh menyebalkan, membuang waktu dan energi secara percuma.

Ketertiban juga menjadi masalah yang perlu diperhatikan. Lahan parkir seakan menjamur di mana-mana, memakan badan jalan yang sudah sempit dan pada akhirnya membuat lalu lintas menjadi tersendat. Kepatuhan terhadap rambu lalu lintas juga semakin memprihatinkan, orang-orang menjadi tidak sabar menunggu traffic light, rambu-rambu yang terpasang seolah hanya menjadi hiasan pemanis di jalan raya hingga terkadang tak sedikit orang yang mengabaikan itu semua. Jika tidak terjadi apa-apa ya saya bersyukur, lha tapi kalau (amit-amit) apesnya terjadi kecelakaan, nah siapa juga yang celaka? Pelanggar lalu lintas itu sendiri kan, iya kalau dia celaka sendiri, itu sudah wajar wong akibat dari perbuatannya tetapi, itu akan menjadi menyebalkan kalau melibatkan orang lain dan menimbulkan kerugian (baik harta maupun nyawa). Memang kecelakaan itu bisa dikatakan musibah, tapi kalau karena kelalaian sendiri itu namanya konyol. Aku ingin Jogja tidak seperti itu, aku ingin semua orang di jogja tertib dan disiplin berlalu lintas, demi keselamatan bersama dan terpenting keselamatan sendiri. Cobalah ingat sanak keluarga di rumah yang menunggu kita, jangan sampai kita celaka hanya karena kekonyolan sendiri, itu bodoh namanya. Aku ingin orang di jogja menjadi sedikit sabar ketika  traffic light masih menyala, jangan main klakson ketika masih tersisa beberapa detik, lampu merah tetap merah meskipun masih tersisa satu atau dua detik. Bersabarlah sebentar guna kenyamanan dan keselamatan bersama. Parkirlah pada tempatnya, dan pada para pengelola parkir tolong jangan egois dalam menggunakan lahan parkir, pertimbangkan juga aspek kepadatan lalu lintas yang ada, jangan asal bikin lokasi parkir kalau pada akhirnya malah membikin macet dan makin semrawut.
Terjaganya kebersihan lingkungan merupakan hal mutlak untuk mewujudkan keindahan dan sebagai bonusnya kesehatan lingkungan dan masyarakat akan terjaga. Akan tetapi kalau kita lihat kembali tersedianya tempat sampah umum sepertinya menjadi hal yang sedikit terlupa, coba jika kita berjalan-jalan ke sekeliling Jogja maka akan jarang kita menemukan tempat sampah di area umum, kalaupun ada juga di tempat tertentu saja. Terkadang kita sudah punya niatan untuk membuang sampah pada tempatnya, tapi kalau tempat sampahnya tidak ada ya mau gimana, kan tidak  selamanya semua orang mau ngegembolin sampah ke mana-mana. Itulah sebabnya aku rasa perlu disediakan tempat sampah di berbagai lokasi strategis guna mendukung upaya menjaga kebersihan.

Angkutan umum seperti  bus kota  atau angkot Jogja sepertinya tak mengalami banyak perubahan sejak bertahun-tahun yang lalu. Keadaan ajeg itu menjadi sedikit masalah dan menurut saya memprihatinkan karena armada itu terlihat lapuk, usang dan parahnya adalah asap knalpot yang hitam pekat mengerikan seakan bisa langsung membuat paru saya jebol jika menghirupnya. Tambahan polusi yang membuat Jogja menjadi semakin gerah. Sepertinya akan lebih baik jika fasilitas umum itu diperbaiki supaya layak dan nyaman digunakan. Memang sekarang penggunanya sudah jarang, akan tetapi jarang bukan berarti tidak ada. Bukankah dengan armada yang bagus penumpang akhirnya menjadi lebih tertarik untuk menggunakan angkutan umum itu.

Jogja terasa indah saat malam hari. Entah kenapa aku merasa ada sihir tersendiri yang membuat kota ini terlihat begitu seksi di kala malam hingga membuat enggan pulang ketika mengarungi Jogja. Akan tetapi, keluar malam di Jogja saat ini menjadi terlalu berisiko mengingat track record tindak kriminal di malam hari meningkat, bahkan mungkin sekarang di tempat ramai sekalipun tak menghalangi niatan penjahat untuk berbuat jahat. Seakan penjahat sudah tak segan lagi dengan hiruk pikuk kehidupan atau ini karena warga yang mulai tidak peduli dengan sekitar sehingga tindak kejahatan bisa terjadi di mana saja. Tindak kekerasan dan premanisme terjadi di mana-mana dan itu menjadi isu terpanas di kota ini selama beberapa waktu terakhir. Ini benar-benar mengerikan dan memprihatinkan. Dimanakah jogja yang berhati nyaman itu? Apakah semua sudah dipenuhi orang berhati preman? Saya rasa tidak. Warga jogja atau semua orang yang tinggal perlu mewujudkan kenyamanan itu lagi. Jangan biarkan preman-preman berkuasa. Siapapun yang ada di Jogja wajib hukumnya untuk menjaga keamanan dan kenyamanan kota ini. Jangan ada yang merasa superior dan kemudian merasa memiliki hak untuk menindas dan mengintimidasi pihak yang lebih lemah. Ingat, kita di sini sama-sama tinggal di jogja, sama- sama membutuhkan Jogja jadi ada baiknya kita semua saling bahu membahu meredam ego masing-masing dan menumbuhkan rasa toleransi setinggi-tingginya terhadap setiap perbedaan yang kita jumpai di sudut Jogja. Karena jogja ini sangat majemuk, dan mari kita bersama mewujudkan Jogja yang aman dan nyaman.  Kita perlu menerapkan secara nyata peribahasa yang berbunyi “dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung” agar kita tidak pernah lupa kita ada di mana dan sebagai apa.

Jogja wilayah yang eksotis, memiliki beragam tempat wisata dan peninggalan budaya. Aku ingin Jogja menjaga dan melestarikan itu, memaksimalkan potensi yang ada sehingga Jogja semakin dikenal di mata negara dan mata dunia. Perlu pengelolaan yang baik dan benar bagi setiap situs yang ada. Jangan ada pihak yang merasa iri dan memiliki hak atas suatu lokasi hingga mengintimidasi yang lain untuk tidak mengganggu karena jika lokasi tersebut berkembang maka semua pasti akan kebagian dan kita memang harus selalu berbagi. Jangan egois karena egois hanya akan membawa buntung bagi diri sendiri. Sebagai pengunjung kita juga jangan pelit jika dimintai dana retribusi, toh pada akhirnya dana itu juga digunakan untuk merawat apa yang ada supaya tetap baik adanya.


Ya kira-kira itu adalah uraian inginku untuk jogja. Terlalu panjang dan bertele-tele mungkin, tapi pada intinya sederhana. Aku ingin Jogja menjadi semakin baik dan semakin baik lagi tanpa pernah meninggalkan jati diri yang sebenarnya. Jangan sampai menjadi kacang yang lupa dengan kulitnya dan tetaplah menjadi Jogja yang berhati nyaman. 

1 comment: