Jogjakarta, kota yang menjadi
kota tempat tinggalku. Meskipun bukan warga kota tapi semenjak kecil aku sudah akrab
dan mengenal kota ini. Jogja yang dahulu aku kenal adalah tempat yang ramah,
nyaman dan menyenangkan. Keramahan tulus ataupun sekedar basa basi yang pada
akhirnya menimbulkan rasa yang membuat kita selalu ingin kembali ke Jogja ketika pergi jauh entah kemana. Jogja
terasa asri dan sejuk, hiruk pikuk kehidupan yang ada masih dapat ditoleransi
tanpa mengganggu kenyamanan yang ada. Sekarang jogja sudah banyak berubah,
seiring pekembangan zaman sudah wajar terjadi perubahan akan tetapi perubahan
yang ku rasakan saat ini serasa Jogja
sudah mulai kehilangan jati dirinya. Slogan Jogja berhati nyaman sepertinya
sudah mulai luntur termakan waktu dan kerasnya kehidupan manusia masa kini.
Jogja menjadi gerah, panas dan yang cukup mencengangkan serta
sedikit menyebalkan adalah Jogja sekarang macet. Pertambahan jumlah kendaraan semakin
menggila, berbagai macam kendaraan berjejalan di jalanan yang sepertinya tak
bertambah lebar. Area pejalan kaki juga seringkali berubah untuk
area dagang, sehingga pejalan kaki menjadi pihak yang kalah dan mlipir di badan jalan. Pembangunan
gedung-gedung tinggi kian membabi buta dan mengganggu pemandangan kota karena
bangunan megah itu kadang berdiri di antara bangunan lain yang semacam sudah
tertata dan memiliki keindahan tersendiri dengan susunan yang ada sebelumnya. Coba
saja kita lihat, sekarang banyak dibangun gedung besar di mana-mana di lokasi yang menurut mereka aspek ekonominya menjual
dan pada akhirnya keberadaan bangunan itu menurut saya sedikit merusak harmoni
yang ada dan ketika itu menarik masa akan menimbulkan titik kemacetan baru dan
itu menyebalkan. Aku tidak suka Jogja yang begitu, ini bukan masalah menentang
perkembangan zaman, akan tetapi lebih pada menciptakan harmoni yang nyata
ditengah hiruk pikuk kehidupan yang ada tanpa menggerus kenyamanan yang lama
tercipta. Aku ingin Jogja yang kembali sejuk dan nyaman seperti dahulu. Perlu
di bangun area publik yang nyaman, rindang, asri sehingga membuat kita betah
berlama-lama di jogja. Trotoar untuk pejalan kaki sebaiknya sungguh-sungguh
difungsikan bagi pejalan kaki. Bukannya mau mematikan mata pencaharian orang
lain, tetapi sebaiknya mereka yang berjualan juga sadar fungsi dasar dari
dibuatnya trotoar itu apa, jangan sampai fungsi mendasarnya jadi terlupakan
hanya karena keegoisan untuk mencari segepok rupiah. Pembangunan gedung-gedung
besar yang tidak perlu seharusnya dipersulit izinnya oleh dinas kota, kalau
perlu dibatasi jika itu memang tidak perlu. Untuk masalah macet aku tidak
begitu paham bagaimana mengatasinya, tapi jika bisa tolong beri solusi atas
kemacetan itu jika perlu hapuskan kata macet dari kamus di Jogja karena macet
itu sungguh menyebalkan, membuang waktu dan energi secara percuma.
Ketertiban juga menjadi masalah
yang perlu diperhatikan. Lahan parkir seakan menjamur di mana-mana, memakan
badan jalan yang sudah sempit dan pada akhirnya membuat lalu lintas menjadi tersendat.
Kepatuhan terhadap rambu lalu lintas juga semakin memprihatinkan, orang-orang
menjadi tidak sabar menunggu traffic
light, rambu-rambu yang terpasang seolah hanya menjadi hiasan pemanis di
jalan raya hingga terkadang tak sedikit orang yang mengabaikan itu semua. Jika
tidak terjadi apa-apa ya saya bersyukur, lha tapi kalau (amit-amit) apesnya terjadi kecelakaan, nah siapa
juga yang celaka? Pelanggar lalu lintas itu sendiri kan, iya kalau dia celaka
sendiri, itu sudah wajar wong akibat
dari perbuatannya tetapi, itu akan menjadi menyebalkan kalau melibatkan orang
lain dan menimbulkan kerugian (baik harta maupun nyawa). Memang kecelakaan itu
bisa dikatakan musibah, tapi kalau karena kelalaian sendiri itu namanya konyol. Aku ingin Jogja tidak seperti
itu, aku ingin semua orang di jogja tertib dan disiplin berlalu lintas, demi
keselamatan bersama dan terpenting keselamatan sendiri. Cobalah ingat sanak
keluarga di rumah yang menunggu kita, jangan sampai kita celaka hanya karena
kekonyolan sendiri, itu bodoh namanya. Aku ingin orang di jogja menjadi sedikit
sabar ketika traffic light masih menyala, jangan main klakson ketika masih
tersisa beberapa detik, lampu merah tetap merah meskipun masih tersisa satu
atau dua detik. Bersabarlah sebentar guna kenyamanan dan keselamatan bersama. Parkirlah
pada tempatnya, dan pada para pengelola parkir tolong jangan egois dalam
menggunakan lahan parkir, pertimbangkan juga aspek kepadatan lalu lintas yang
ada, jangan asal bikin lokasi parkir kalau pada akhirnya malah membikin macet
dan makin semrawut.
Terjaganya kebersihan lingkungan
merupakan hal mutlak untuk mewujudkan keindahan dan sebagai bonusnya kesehatan
lingkungan dan masyarakat akan terjaga. Akan tetapi kalau kita lihat kembali
tersedianya tempat sampah umum sepertinya menjadi hal yang sedikit terlupa,
coba jika kita berjalan-jalan ke sekeliling Jogja maka akan jarang kita
menemukan tempat sampah di area umum, kalaupun ada juga di tempat tertentu
saja. Terkadang kita sudah punya niatan untuk membuang sampah pada tempatnya,
tapi kalau tempat sampahnya tidak ada ya mau gimana, kan tidak selamanya semua orang mau ngegembolin sampah ke mana-mana. Itulah sebabnya aku rasa perlu
disediakan tempat sampah di berbagai lokasi strategis guna mendukung upaya
menjaga kebersihan.
Angkutan umum seperti bus kota
atau angkot Jogja sepertinya tak mengalami banyak perubahan sejak
bertahun-tahun yang lalu. Keadaan ajeg
itu menjadi sedikit masalah dan menurut saya memprihatinkan karena armada itu
terlihat lapuk, usang dan parahnya adalah asap knalpot yang hitam pekat
mengerikan seakan bisa langsung membuat paru saya jebol jika menghirupnya. Tambahan
polusi yang membuat Jogja menjadi semakin gerah. Sepertinya akan lebih baik
jika fasilitas umum itu diperbaiki supaya layak dan nyaman digunakan. Memang
sekarang penggunanya sudah jarang, akan tetapi jarang bukan berarti tidak ada.
Bukankah dengan armada yang bagus penumpang akhirnya menjadi lebih tertarik
untuk menggunakan angkutan umum itu.
Jogja terasa indah saat malam hari.
Entah kenapa aku merasa ada sihir tersendiri yang membuat kota ini terlihat
begitu seksi di kala malam hingga membuat enggan pulang ketika mengarungi Jogja.
Akan tetapi, keluar malam di Jogja saat ini menjadi terlalu berisiko mengingat track record tindak kriminal di malam
hari meningkat, bahkan mungkin sekarang di tempat ramai sekalipun tak
menghalangi niatan penjahat untuk berbuat jahat. Seakan penjahat sudah tak
segan lagi dengan hiruk pikuk kehidupan atau ini karena warga yang mulai tidak
peduli dengan sekitar sehingga tindak kejahatan bisa terjadi di mana saja.
Tindak kekerasan dan premanisme terjadi di mana-mana dan itu menjadi isu terpanas
di kota ini selama beberapa waktu terakhir. Ini benar-benar mengerikan dan
memprihatinkan. Dimanakah jogja yang berhati nyaman itu? Apakah semua sudah
dipenuhi orang berhati preman? Saya rasa tidak. Warga jogja atau semua orang
yang tinggal perlu mewujudkan kenyamanan itu lagi. Jangan biarkan preman-preman
berkuasa. Siapapun yang ada di Jogja wajib hukumnya untuk menjaga keamanan dan
kenyamanan kota ini. Jangan ada yang merasa superior dan kemudian merasa
memiliki hak untuk menindas dan mengintimidasi pihak yang lebih lemah. Ingat,
kita di sini sama-sama tinggal di jogja, sama- sama membutuhkan Jogja jadi ada baiknya
kita semua saling bahu membahu meredam ego masing-masing dan menumbuhkan rasa
toleransi setinggi-tingginya terhadap setiap perbedaan yang kita jumpai di
sudut Jogja. Karena jogja ini sangat majemuk, dan mari kita bersama mewujudkan
Jogja yang aman dan nyaman. Kita perlu
menerapkan secara nyata peribahasa yang berbunyi “dimana bumi dipijak disitu
langit dijunjung” agar kita tidak pernah lupa kita ada di mana dan sebagai apa.
Jogja wilayah yang eksotis,
memiliki beragam tempat wisata dan peninggalan budaya. Aku ingin Jogja menjaga
dan melestarikan itu, memaksimalkan potensi yang ada sehingga Jogja semakin
dikenal di mata negara dan mata dunia. Perlu pengelolaan yang baik dan benar
bagi setiap situs yang ada. Jangan ada pihak yang merasa iri dan memiliki hak
atas suatu lokasi hingga mengintimidasi yang lain untuk tidak mengganggu karena
jika lokasi tersebut berkembang maka semua pasti akan kebagian dan kita memang harus selalu berbagi. Jangan egois karena
egois hanya akan membawa buntung bagi
diri sendiri. Sebagai pengunjung kita juga jangan pelit jika dimintai dana
retribusi, toh pada akhirnya dana itu
juga digunakan untuk merawat apa yang ada supaya tetap baik adanya.
Ya kira-kira itu adalah uraian
inginku untuk jogja. Terlalu panjang dan bertele-tele mungkin, tapi pada
intinya sederhana. Aku ingin Jogja menjadi semakin baik dan semakin baik lagi
tanpa pernah meninggalkan jati diri yang sebenarnya. Jangan sampai menjadi kacang
yang lupa dengan kulitnya dan tetaplah menjadi Jogja yang berhati nyaman.
semua juga pengen jogja tetap seperti dulu :)
ReplyDelete