Aku merindukan dia yang bukan milikku. Sangat-sangat
merindukannya hingga aku merasa namanya terukir jelas di pikiranku, tiap bait
kata yang terlintas di benakku akan terselip namanya dan itu yang terucap
selalu dalam rapalan doa-doaku. Bayangan wajahnya terekam jelas di benakku. Senyumnya,
hangat pelukannya, belaian lembutnya, genggaman erat di tanganku,,kehangatannya,,
semuanya tentang dia aku rindu. Aku merindukan sosoknya. Sosoknya yang ternyata
tak ada di sini, di sisiku.
Aku mengharapkan dia ada di sini, bersamaku
dan milikku. Ingin aku memeluknya ketika dia ada bersamaku, ingin aku menciumnya
ketika dia ada di dekatku, ingin aku menahannya ketika dia akan pergi, ingin
aku selalu berada di dekatnya, merasakan hangat nafasnya, mendengar celotehan
celotehannya, melihat hal hal apa yang dia lakukan dan menemaninya ketika dia
merasa sendirian. Tapi aku harus menahan semua hasrat itu dalam dalam dan
menguncinya rapat rapat di dasar hatiku, jangan sampai keluar karena dia bukanlah milikku.
Aku merindukannya hingga dada
ini terasa sesak karena dipenuhi oleh perasaan-perasaan yang ku tahan
hingga menekan kuat rongga dadaku. Ketika aku merindukannya aku terkadang
menjadi gelisah karena aku tak
bisa berbuat apa apa untuk menuntaskan rinduku, gelisah karena aku tak bisa
melakukan apa yang ingin kulakukan,, gelisah karena semua yang ingin kuperbuat
hanya bisa tergambar jelas dalam anganku saja. Merindukannya akan membuatku menjadi sulit terlelap, karena setiap aku memejamkan mata, bayangan wajahnya
akan muncul di sana dan rasanya terlalu sayang untuk dilewatkan jika aku terlelap.
Rasa-rasanya bayangannya selalu ada kemanapun aku melangkah. Apapun yang
kutemui seringkali mengingatkanku akan dia dan terkadang itu menyiksa.
Persetan dengan rasa rindu ini,,
karena sepertinya hanya aku saja yang merasakannya, hanya aku saja yang
menginginkan untuk berjumpa dengannya, dan hanya aku saja yang ingin selalu
bersamanya. dan pada akhirnya semua berujung sunyi.
No comments:
Post a Comment